Istilah COD atau Cash on Delivery sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem belanja daring di Indonesia. Bagi masyarakat awam, COD secara sederhana dipahami sebagai sistem bayar di tempat. Namun, pemaknaan ini sebenarnya telah mengalami pergeseran signifikan seiring perkembangan zaman. Sebelum era toko online menjamur seperti sekarang, skema ini merujuk pada kesepakatan pertemuan langsung antara penjual dan pembeli di lokasi serta waktu yang ditentukan. Dalam praktik lawas ini, transaksi sering bermula dari unggahan media sosial atau situs iklan baris, di mana penjual membawa barang fisik untuk diperiksa langsung oleh calon pembeli sebelum pembayaran dilakukan.
Kini, dalam konteks marketplace modern, definisi tersebut telah berevolusi. Mengutip penjelasan dari platform besar seperti Shopee dan Tokopedia, COD kini didefinisikan sebagai metode pembayaran tunai kepada kurir saat pesanan tiba di tangan pembeli. Mekanisme ini tidak lagi mengharuskan tatap muka dengan penjual, melainkan difasilitasi oleh jasa ekspedisi. Layanan ini hadir sebagai solusi inklusif, terutama bagi konsumen yang belum terbiasa dengan teknologi perbankan digital atau transfer online. Dengan adanya opsi ini, pembeli dapat memastikan barang sampai terlebih dahulu sebelum mengeluarkan uang, yang secara tidak langsung membangun kepercayaan dalam ekosistem jual beli digital.
Dinamika Fitur dan Jangkauan Wilayah
Penting untuk dipahami bahwa fitur bayar di tempat ini bersifat opsional dan memiliki aturan main tersendiri di setiap platform. Tidak semua wilayah di Indonesia terjangkau oleh layanan ini, dan ketersediaannya sering kali bergantung pada dukungan logistik di daerah tersebut. Selain itu, fitur ini bersifat sukarela bagi sisi penjual; mereka dapat memilih untuk mengaktifkan atau menonaktifkannya. Meski demikian, banyak penjual memilih menyediakan opsi ini karena terbukti ampuh mendongkrak angka penjualan. Demi keamanan transaksi, pihak marketplace biasanya menyediakan opsi asuransi tambahan serta menetapkan syarat dan ketentuan khusus, seperti batas minimal atau maksimal nilai belanja.
Inovasi Logistik dan Pusat Pengiriman Hiperlokal
Sementara metode pembayaran tunai masih menjadi andalan untuk aksesibilitas pasar di Indonesia, raksasa teknologi Amazon di Amerika Serikat tengah bergerak ke arah yang berbeda dengan fokus pada kecepatan pengiriman ekstrem. Perusahaan tersebut sedang menguji konsep “pengiriman cepat” baru yang dirancang untuk membawa layanan logistik ke tingkat yang lebih tinggi. Berdasarkan laporan GeekWire, Amazon tengah mengembangkan konsep hub pengiriman bergaya ritel di kawasan pemukiman Seattle. Fasilitas ini dirancang beroperasi 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, menyerupai kenyamanan sebuah toserba namun dengan fungsi logistik yang canggih.
Konsep ini memungkinkan pengemudi Amazon Flex untuk mengambil paket pesanan dalam hitungan menit tanpa perlu masuk ke dalam gedung. Tujuannya adalah menciptakan operasi pengiriman kecil yang bersifat hiperlokal, di mana pusat pemenuhan pesanan (fulfillment centers) ditempatkan di area perkotaan padat. Strategi ini difokuskan pada barang-barang dengan permintaan tinggi agar dapat sampai ke tangan pelanggan di lingkungan sekitar dengan jauh lebih cepat. Izin pembangunan menunjukkan bahwa pelanggan tidak akan memasuki hub ini secara langsung; tempat ini murni didedikasikan untuk mempercepat rantai pasok ke rumah-rumah warga.
Target Ambisius 2025 dan Pemanfaatan Kecerdasan Buatan
Langkah ini sejalan dengan pernyataan resmi Amazon yang menargetkan kecepatan pengiriman tertinggi bagi anggota Prime secara global pada tahun 2025. Perusahaan mengklaim bahwa kombinasi inovasi teknologi, penempatan fasilitas yang strategis, dan metode pengiriman khusus akan menetapkan standar baru dalam kenyamanan berbelanja. Salah satu terobosan utamanya adalah penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk memprediksi kebiasaan belanja pelanggan secara lebih akurat, memungkinkan stok barang tersedia lebih dekat dengan lokasi pembeli sebelum mereka bahkan memesannya.
Selain fokus pada area urban, Amazon juga berencana memperluas jangkauan layanan “Same-Day” dan “Next-Day” ke lebih dari 4.000 kota kecil dan pedesaan pada akhir tahun 2025. Rencana ekspansi ini mencakup transformasi stasiun pengiriman pedesaan yang sudah ada menjadi hub hibrida yang dapat menyimpan inventaris di lokasi, memungkinkan pengiriman dalam hitungan jam. Tidak hanya barang ritel, layanan ini juga mencakup pengiriman resep obat di hari yang sama di belasan kota besar AS, dengan target menjangkau hampir 50% pelanggan AS tahun depan. Untuk menyesuaikan dengan kondisi lapangan, armada pengiriman pun dimodifikasi, termasuk penggunaan sepeda kargo listrik (E-cargo bikes) di area-area tertentu demi efisiensi maksimal.